Untukmu calon imamku,
kutulis kisah ini, dimalam-malamku yang panjang
bagai goresan, getar hati dalam rindu yang tertahan
untukmu, seseorang yang akan menemaniku dimasa depan
kamu,
kamu siapa? siapa namamu? dimana kamu berada?
Aku menantimu bersama semua pengabdianku yang tertunda
bersama segenap cinta yang tak akan sempurna,
bila engkau tak kunjung hadir dihadapanku
Suatu saat, bila engkau datang tolong cintai aku karena Allah
bimbinglah aku, jadilah imam dalam sholatku
Izinkan bakti dan taatku menyatu bersama senyum diwajah teduhmu
Izinkan cinta dan rinduku terpatri kuat didalam hati dan fikiranmu
Untukmu, calon imamku
yang sedang memantaskan dirinya dihadapan Allah
ketahuilah, bahwa akupun disini selalu menantimu dalam taat
menantimu untuk menjadi penyejuk jiwamu,
Kau yang tertulis di Lauhul Mahfudz,
kau adalah rahasia terbesarku
kehadiranmu menyempurnakan hidupku
Kau yang kusebut didalam doaku,
kau yang menjadi imam dihidupku,
kehadiranmu menyempurnakan Imanku
Bersamamu dimasa depanku, membangun syurga
Menggapai Ridho-Nya,
Sampai bertemu disuatu masa....
Sunday, January 29, 2017
Saturday, October 26, 2013
Outed
Bagai menghirup udara bebas,
bagai menghisap oksigen yang sudah lama kulepaskan,
aku merasakan kebebasan.
Kau,
yang sudah lama mengunci rasaku, kiniku sudah mampu melepaskanmu.
Kasih, ingin rasanya kukembali kemasa itu.
Masa dimana kumasih mengejar rasaku.
Mempertahankan egoku, egoku untuk rasaku yang konyol.
Baru kusadari,
tak selayaknya aku mempertahankan sesuatu yang menghempaskanku.
Kisah-kisah saat aku masih dibalik layarmu, kisah abu-abu ku.
Kisah itulah yang tak akan kulepas dari album ingatanku.
Akan kukenang,
bisa kau pegang janjiku, kau akan menjadi tetap yang terbaik.
Karena kau sudah mengajariku,
bagaimana mencintai tanpa pernah diketahui.
Bagaimana mengungkapkan yang tak ingin diungkapkan.
Bagaimana bersabar menahan sesak.
dan merasakan bagaimana rasa yang berkombinasi.
Hai, Selamat tinggal.
bagai menghisap oksigen yang sudah lama kulepaskan,
aku merasakan kebebasan.
Kau,
yang sudah lama mengunci rasaku, kiniku sudah mampu melepaskanmu.
Kasih, ingin rasanya kukembali kemasa itu.
Masa dimana kumasih mengejar rasaku.
Mempertahankan egoku, egoku untuk rasaku yang konyol.
Baru kusadari,
tak selayaknya aku mempertahankan sesuatu yang menghempaskanku.
Kisah-kisah saat aku masih dibalik layarmu, kisah abu-abu ku.
Kisah itulah yang tak akan kulepas dari album ingatanku.
Akan kukenang,
bisa kau pegang janjiku, kau akan menjadi tetap yang terbaik.
Karena kau sudah mengajariku,
bagaimana mencintai tanpa pernah diketahui.
Bagaimana mengungkapkan yang tak ingin diungkapkan.
Bagaimana bersabar menahan sesak.
dan merasakan bagaimana rasa yang berkombinasi.
Hai, Selamat tinggal.
Saturday, June 15, 2013
Percakapan kita
Aku sadar,
bodohnya diriku jika mengharapkanmu
dengan seperti ini saja, aku sudah cukup bahagia......sayang
dengan percakapan singkat kita, dari kejauhan
dan hanya melalui kata demi kata
itu sudah membuatku mengerti apa itu surga dunia.
Tapi taukah kamu?
disini, aku selalu menunggu awalan dari sebrang sana; kamu
membuka percakapan yang manis, dan diakhiri dengan sepatah
kata ucapan
tapi semua berbalik arah,
selalu saja aku yang membuka awalan,
dan kau yang menutupnya
dengan “Just Read”
dan pernah tersadarkah kau?
disini, aku selalu putar otak
untuk menemukan kata yang pantas mengawali percakapan kita.
Selalu saja aku mencari topik yang pas untuk itu.
Hingga ada saatnya aku tersesat,
tak ada ide.
Disitulah aku menahan egoku,
untuk mengganggumu dengan hanya memanggil nama indahmu.
pernah mendengarkah kau?
dari sini, percakapan kita selalu dicover dengan tangisanku?
aku hanya bisa mengeluarkan jurus andalanku; tangis
saat aku sudah lelah melawan jari demi jemariku.
Untuk tidak mengetik kata yang bukan-bukan.
Seperti “Aku sayang kamu” mungkin.....
selama ini aku menahannya, aku melawannya, dan aku
menutupinya.
Hingga mungkin.....lelah rasanya
Wednesday, June 5, 2013
Pergi 'lagi'?
Kamu, datang lagi.
Saat pertama kamu hadir kembali dalam nyataku,
aku sempat berfikir ini mimpi.
Tapi tidak dipungkiri, ini nyata.
Kamu? yang selama ini hanya mayaku.
Sekarang? bisa jadi nyataku.
Kamu temani malamku, warnai hariku.
Tapi.....haruskah aku yang memulai?
Dan sekarang, apa waktu itu terulang lagi?
aku lelah,
saat kau melakukan hal yang sama, aku selalu berfikir
"Biasa, semua biasa. Ada lagi?"
Aku sudah biasa dengan sifatmu, tingkahmu.
kamu masih sama seperti dulu, tak ada yang tertinggal
sama seperti rasaku, masih sama dan utuh
bahkan mungkin rasaku naik beberapa level keatasnya
naik ketingkat yang lebih dekat jangkau dengan langit
Apa kau ingin angkat kaki 'lagi' dari nyataku?
apa kau tega membiarkanku bersenang-senang dengan mayamu 'lagi'?
apa kau begitu menyayanginya?
sehingga, lagi-lagi aku korbannya....
Jadi sekarang, pilihanmu pergi? enyahlah kasih, aku ikhlas:')
Jika suatu saat kau ingin mampir kedalam nyataku lagi,
hatiku akan selalu terbuka untukmu. Walau sakit resikonya.
Jika kau ingin datang kedalam mimpiku,
kan kuterima dengan tangan terbuka.
Jika kau ingin mengundang ku kedalam mimpimu,
aku akan sangat bahagia.
Dan apabila kau ingin berbagi tangismu,
aku akan mencoba untuk menopang bebanmu.
Bagaimana dengan bahagiamu?
aku yakin, bahagiamu hanya akan kau bagi dengannya. Lagi-lagi aku ikhlas:')
Dan sama seperti pilihanku pertama, aku akan tetap disini.
Hidup dilayar hitammu, layar belakangmu.
Yang tak pernah kau tengok, yang tak pernah kau singgahi.
Dosakah aku, bila aku menyayangimu?:')
Saat pertama kamu hadir kembali dalam nyataku,
aku sempat berfikir ini mimpi.
Tapi tidak dipungkiri, ini nyata.
Kamu? yang selama ini hanya mayaku.
Sekarang? bisa jadi nyataku.
Kamu temani malamku, warnai hariku.
Tapi.....haruskah aku yang memulai?
Dan sekarang, apa waktu itu terulang lagi?
aku lelah,
saat kau melakukan hal yang sama, aku selalu berfikir
"Biasa, semua biasa. Ada lagi?"
Aku sudah biasa dengan sifatmu, tingkahmu.
kamu masih sama seperti dulu, tak ada yang tertinggal
sama seperti rasaku, masih sama dan utuh
bahkan mungkin rasaku naik beberapa level keatasnya
naik ketingkat yang lebih dekat jangkau dengan langit
Apa kau ingin angkat kaki 'lagi' dari nyataku?
apa kau tega membiarkanku bersenang-senang dengan mayamu 'lagi'?
apa kau begitu menyayanginya?
sehingga, lagi-lagi aku korbannya....
Jadi sekarang, pilihanmu pergi? enyahlah kasih, aku ikhlas:')
Jika suatu saat kau ingin mampir kedalam nyataku lagi,
hatiku akan selalu terbuka untukmu. Walau sakit resikonya.
Jika kau ingin datang kedalam mimpiku,
kan kuterima dengan tangan terbuka.
Jika kau ingin mengundang ku kedalam mimpimu,
aku akan sangat bahagia.
Dan apabila kau ingin berbagi tangismu,
aku akan mencoba untuk menopang bebanmu.
Bagaimana dengan bahagiamu?
aku yakin, bahagiamu hanya akan kau bagi dengannya. Lagi-lagi aku ikhlas:')
Dan sama seperti pilihanku pertama, aku akan tetap disini.
Hidup dilayar hitammu, layar belakangmu.
Yang tak pernah kau tengok, yang tak pernah kau singgahi.
Dosakah aku, bila aku menyayangimu?:')
Tuesday, May 14, 2013
Malam tiba; datang
Saat rembulan menggantikan senyum matahari,
saat siang mulai lelah dan redup,
saat awan-awan biru digantikan oleh berbagai rasi-rasi dan bentuk bintang,
saat itulah rasa ini terkadang menghantuiku.
Rasa takut untuk kehilangan sosok mayamu
rasa takut untuk meninggalkan senyum manismu
rasa takut untuk menghiraukan tatapan matamu
dan rasa takut untuk pergi dari layar belakangmu.
Aku sudah cukup nyaman dengan ini,
meski sosokmu, senyummu, dan tatapanmu itu hanya sekedar lisan&tulisan.
Bukan nyata, tapi aku tetap takut kehilangannya dan berat untuk merelakannya.
Tapi apa boleh dikata, aku memang harus benar-benar pergi darimu.
Meninggalkan semua tentang dirimu; maya
saat siang mulai lelah dan redup,
saat awan-awan biru digantikan oleh berbagai rasi-rasi dan bentuk bintang,
saat itulah rasa ini terkadang menghantuiku.
Rasa takut untuk kehilangan sosok mayamu
rasa takut untuk meninggalkan senyum manismu
rasa takut untuk menghiraukan tatapan matamu
dan rasa takut untuk pergi dari layar belakangmu.
Aku sudah cukup nyaman dengan ini,
meski sosokmu, senyummu, dan tatapanmu itu hanya sekedar lisan&tulisan.
Bukan nyata, tapi aku tetap takut kehilangannya dan berat untuk merelakannya.
Tapi apa boleh dikata, aku memang harus benar-benar pergi darimu.
Meninggalkan semua tentang dirimu; maya
Monday, May 13, 2013
Apa Bisa?
Aku masih saja berdiri disini; dibalik layarmu
aku merasa bodoh, terus memandangimu dari sini
aku masih sama seperti awal saat rasa itu ada.
Masih sama, tak ada yang berubah.
Terbesik dalam benakku untuk membuatmu merasa kehilangan sosok 'diriku'
tapi apa bisa?
apa bisa aku melihat kau meneteskan air dari kelopak matamu, untukku?
apa bisa aku merasakan rindu dari lubuk hatimu, untukku?
apa bisa aku mendengar suara lirihmu memanggil namaku?
apa bisa aku mencium harumnya tubuhmu saat kau mulai mencari jejakku?
dan, apa bisa kau mengulang semua yang aku lakukan untukmu? selama ini.
aku merasa bodoh, terus memandangimu dari sini
aku masih sama seperti awal saat rasa itu ada.
Masih sama, tak ada yang berubah.
Terbesik dalam benakku untuk membuatmu merasa kehilangan sosok 'diriku'
tapi apa bisa?
apa bisa aku melihat kau meneteskan air dari kelopak matamu, untukku?
apa bisa aku merasakan rindu dari lubuk hatimu, untukku?
apa bisa aku mendengar suara lirihmu memanggil namaku?
apa bisa aku mencium harumnya tubuhmu saat kau mulai mencari jejakku?
dan, apa bisa kau mengulang semua yang aku lakukan untukmu? selama ini.
Monday, May 6, 2013
Terik merindukan hujan; miris
Saat seperti ini, aku selalu teringat.
Teringat dengan tugasku; menunggu.
Tak ada satupun tindakan,
namun aku selalu tetap pada tempat awalku; kamu.
Aku merindukan tawa hangatmu.
Senyum damaimu.
Langkah tegasmu.
Mata cerdasmu.
dan kelakuan konyolmu.
Aku tau, seharusnya aku sudah hapus rasa ini dan pergi dari zona nyamanku ini.
Tapi tak semudah itu,
tak semudah melihatmu dari kejauhan.
Tak semudah mendengar tawamu, suaramu, hembusan nafasmu; dalam diam.
Maaf, aku rasa sulit untuk lakukan itu; pergi
aku akan tetap disini,
dengan tujuan yang sama seperti awalku mengenalmu; menunggu
Aku berjanji, tak akan sama sekali aku mengganggumu dan hari-harimu (dia)
Teringat dengan tugasku; menunggu.
Tak ada satupun tindakan,
namun aku selalu tetap pada tempat awalku; kamu.
Aku merindukan tawa hangatmu.
Senyum damaimu.
Langkah tegasmu.
Mata cerdasmu.
dan kelakuan konyolmu.
Aku tau, seharusnya aku sudah hapus rasa ini dan pergi dari zona nyamanku ini.
Tapi tak semudah itu,
tak semudah melihatmu dari kejauhan.
Tak semudah mendengar tawamu, suaramu, hembusan nafasmu; dalam diam.
Maaf, aku rasa sulit untuk lakukan itu; pergi
aku akan tetap disini,
dengan tujuan yang sama seperti awalku mengenalmu; menunggu
Aku berjanji, tak akan sama sekali aku mengganggumu dan hari-harimu (dia)
Subscribe to:
Posts (Atom)